Rintik hujan



Rintik hujan Capella itulah namanya, seorang gadis yang selalu berusaha mendapatkan cinta seorang cowok, bernama Langit Sirius Arkana. Penampilan yang bad menutupi semua kesedihan hidupnya. Sampai suatu hari ia merasa sangat bahagia, perjuangannya kini dapat di lihat oleh Langit. Mereka menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih. Tetapi masalah muncul bertubi-tubi ke dalam hidup Rintik. Mengetahui semua kebenaran yang selama ini di sembunyikan darinya. Menerima kenyataan pahit dalam hidupnya. 

Jika musim hujan, selalu saja hujan yang disalahkan. Mereka menyalakan hujan ketika terjadi bencana banjir, padahal banjir terjadi juga karena kesalahan mereka. Tetapi apa boleh buat namanya juga manusia, mana mau disalahkan. Dan ketika musim kemarau, manusia berharap jika hujan akan turun padahal itu tidak mungkin terjadi. Mereka cuma mengingat jasa hujan saat mereka sedang kesusahan tetapi setelah mereka mendapatkan kebahagiaan maka mereka akan mencampakkan.


Itulah sedikit kisah hujan yang hampir mirip dengan kisah cintaku. Aku selalu memperjuangkan dia yang tidak pernah menganggap ku ada. Anggap saja aku bodoh, gila, enggak tahu malu, memang kenyataannya seperti itu. Aku menyingkirkan semua kelebihan ku demi mendapatkan perhatian darinya. Tetapi dia justru semakin enggan untuk melihat ku.


"Rintik..." Panggil seseorang yang membuat ku menolehkan kepala. Ternyata di sana sudah ada Bunda yang sedang membawakan secangkir teh untukku. Memang sudah menjadi kebiasaan jika malam hari meminum


"Minum dulu tehnya."


Bunda menyodorkan secangkir teh itu kepadaku. Aku meminum teh itu hingga tersisa setengah. Bagiku teh buatan Bunda adalah teh yang paling enak di dunia. Aku meletakkan cangkir teh itu di meja." Makasih bunda..." Ucapku.


Bunda menganggukkan kepalanya, lalu tangannya mengelus-elus rambutku." Setelah tugas kamu ini selesai, cepat tidurnya. Udah malem, besok sekolah." Ujar bundaku. Aku menganggukkan kepala. Lalu bunda berjalan keluar dari kamarku. Aku menatap punggung Bunda yang kian menjauh dari hadapanku. Bunda adalah pahlawanku selama ini. Dia kerja keras untuk menghidupiku. Dia selalu menjadi bunda serta ayah bagiku. Bunda selalu berusaha membuatku tidak pernah kekurangan


menjauh dari hadapanku. Bunda adalah pahlawanku selama ini. Dia kerja keras untuk menghidupiku. Dia selalu menjadi bunda serta ayah bagiku. Bunda selalu berusaha membuatku tidak pernah kekurangan kasih sayang.


Ayah satu nama yang tidak pernah aku keluarkan dari mulutku. Setelah kejadian di mana aku mengetahui semuanya. Aku menganggap jika Ayahku sudah tiada. Meskipun seringkali aku iri melihat anak-anak lain yang mempunyai seorang ayah dalam hidupnya. Tetapi tidak apa-apa, aku masih punya bunda yang selalu ada untukku.


Komentar

Posting Komentar